Sabtu, 26 November 2016

Langkah Kedewasaan

Dari: Mufidah Nur Azizah
Untuk: Bunda Helvy Tiana Rosa

Bismillah…
Assalamu’alaikum Bunda Helvy.
Sebelum menyampaikan beberapa patah kata mengenai hidup versi Saya, Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Bunda, nama saya Mufidah Nur Azizah atau yang sahabat-sahabat dekat saya biasa panggil dengan sebutan Upit. Tapi, sekarang Saya hampir selalu memperkenalkan diri Saya dengan nama Mufi. Saya lahir di Jakarta pada tanggal 28 Desember 1996. Jadi, kini Saya hampir genap berusia 20 tahun.
Secara umum, sifat Saya dapat dijabarkan sebagai anak yang pemalas, menggampangkan segala urusan, sangat berketergantungan pada orang lain, sensitif, dan jarang sekali serius memikirkan masa depan Saya. Hidup berkecukupan dan perlakuan orangtua terhadap Saya membuat Saya terlena. Saya punya impian, tapi Saya tidak pernah benar-benar memperjuangkannya di luar kepala. Ya, saya hanya sibuk bermimpi. Saya sibuk bervisi sampai tidak pernah Saya susun misi untuk meraih visi tersebut, apalagi melaksanakannya.
Impian Saya hanyalah satu. Saya hanya ingin menjadi seorang penulis. Tapi, saat kedua orangtua Saya menentangnya, Saya terlalu manut dan lantas menurut. 2014 saat saya lulus dari SMA dan mencari perguruan tinggi, Ayah menyetir Saya agar Saya masuk ke jurusan arsitektural di sebuah kampus swasta di Jakarta. Saat itu, sempat Saya menolak dan menyampaikan keinginan Saya untuk masuk ke jurusan Sastra Indonesia. Namun, ucapan Ayah yang merendahkan jurusan itu lantas menyiutkan nyali Saya hanya dalam hitungan menit. Hingga akhirnya Saya mengiyakan keinginan Ayah saya dan resmi menjadi seorang mahasiswa jurusan arsitektur.
Tanpa kemauan, tanpa kecintaan, tanpa tujuan yang pasti, dan dengan penuh keterpaksaan Saya menjalani kisaran 2 tahun potong masa dalam hidup Saya dijurusan arsitektur.
Tapi ternyata, arsitektur sangat jauh dari apa yang saya bayangkan. Ditahun pertama pun, Saya sudah merasa hampir putus asa dan goyah. Ucapan-ucapan dari para dosen dan senior pun terus menghantui Saya. Mereka terus-menerus mewanti-wanti Saya untuk secepatnya keluar dari jurusan itu karena mereka tau persis dalih Saya untuk masuk ke jurusan itu sangatlah lemah. Hanya karena ayah Saya menginginkannya.
Lalu, ketika mulai akhir tahun 2015, Saya semakin kacau karena semakin jauhnya hidup Saya dari harapan Saya sendiri. Terasa sangat begitu sulitnya untuk menjadi diri sendiri dan mencintai impian Saya sendiri. Kata-kata penghibur dari saya dan untuk saya sendiri seperti, “pokoknya lo lulus aja secepatnya. Setelah lulus, lo bebas jadi penulis.” Itu mulai tidak bekerja. Saya semakin gelisah karena terlepas dari impian Saya yang berbeda dengan studi Saya, Saya pun mulai mengkhawatirkan cara Saya untuk lulus. Saya mulai meragukan kemampuan Saya sendiri karena setelah tiga semester—mengambil cukup banyak mata kuliah mengenai arsitektural—Saya tetap merasa payah dan tidak bisa apa-apa dibandingkan teman-teman Saya di arsitektur. Saya semakin tidak percaya diri dan kehilangan identitas diri.
Masa itu merupakan masa jatuhnya Saya yang paling dalam selama 20 tahun Saya hidup. Karena Saya terjebak sendiri disebuah dunia yang asing dan tidak Saya inginkan. Namun, Saya sangat tidak berdaya karena telah terlanjur memikul amanat orangtua untuk menjadi anak yang sukses. Mereka secara konsisten menanyakan perkembangan Saya di arsitektur dan membuat Saya menumpuk kebohongan-kebohongan serta topeng-topeng yang semakin lama semakin membuat Saya membenci diri saya sendiri. saya ingin mencurahkan keluh kesah Saya kepada siapapun, tapi dimasa itu.. Saya menyadari bahwa Saya benar-benar seorang diri. Banyaknya sahabat-sahabat saya yang dulu setia di samping Saya dan mendukung Saya membuat saya menganggap remeh setiap masalah. Tapi, saat satu persatu mereka mulai pergi dan punya masalah masing-masing.. Saya mulai menyadari bahwa Saya benar-benar sendiri dan tidak bisa lagi bergantung kepada siapapun.
Menulis, satu-satunya kebanggaan rahasia yang Saya cintai itu—mulai menjadi pelarian saat Saya sedang jatuh karena masalah-masalah di arsitektur. Lambat laun, kecintaan Saya terhadap tulisan justru semakin berkembang. Bahkan, Saya sangat gemas ingin tau lebih dalam mengenai ilmu menulis. Saya juga semakin sering mengandai-andai jika saja Saya masuk Sastra Indonesia. Saya sangat ingin bertemu dengan orang-orang yang memiliki kemampuan menulis lebih dari Saya dan belajar darinya. Impian Saya mengenai dunia tulis menulis semakin terasa kuat dan Saya menjadi lebih berambisi. Saya pun menyadari bahwa hasrat ini bukan lagi tentang bagaimana Saya bisa kabur dari dunia arsitektur, melainkan bagaimana caranya agar Saya bisa benar-benar belajar mengenai bahasa dan menulis.
Saya tidak lagi hanya ingin berlari untuk pergi dari tanggung jawab. Saya mulai berlari untuk mengejar impian Saya.
Akhirnya—setelah keterpurukan hampir dua tahun lamanya—saya bangkit. Dirundung kesadaran akan batas waktu yang pasti semakin lama semakin dekat, Saya membangun kembali keberanian Saya dan mengambil resiko besar dengan bolos UAS Perkembangan Arsitektur dan diam-diam mengambil tes masuk Universitas Negeri Jakarta karena pada saat itu, Universitas Negeri di Jakarta yang memiliki jurusan sastra Indonesia dan masih membuka jalur pendaftaran hanyalah UNJ saja.
Mengikuti tes tersebut tidak mudah. Background Saya yang berasal dari jurusan arsitektur dan jurusan Saya di SMA yang merupakan jurusan IPA membuat langkah Saya terasa berat. Saya pun hanya mendapatkan waktu dua minggu untuk belajar habis-habisan secara diam-diam, itupun terpotong sekitar lima hari karena Saya jatuh sakit tifus untuk pertama kalinya. Dalam jangka waktu sekitar 3 hari setelah agak baikan, Saya mengikuti tes mandiri UNJ seorang diri dan memasrahkan semuanya pada Allah.
Lalu setelah memperjuangkan segalanya sendirian, Allah yang Maha Baik mengatakan kepada Saya bahwa jalan inilah yang terbaik. Allah mengatakannya lewat pengumuman kelolosan tes mandiri UNJ. Dan setelah melalui sesi kejujuran dengan orangtua, Saya akhirnya resmi menjadi mahasiswa sastra Indonesia UNJ.
Bunda, setelah melalui banyak hal yang sangat berbeda dengan kehidupan Saya dari sebelum lulus SMA sampai kebelakang, Saya menjadi sangat bersyukur. Melalui masalah terbesar dalam hidup Saya dan telah menyelesaikannya dengan keputusan yang berani, level kedewasaan Saya jadi bertambah tinggi. Selain itu, walaupun baru sekitaran tiga kali Saya belajar efektif sebagai seorang mahasiswa sastra Indonesia, entah kenapa segalanya terasa lebih benar. Rasanya begitu lega dan Saya perlahan mulai kembali mengapresiasi diri saya sendiri dan percaya diri. Saya mencintai keputusan Saya dengan segala konsekuensinya. Walaupun ini semua baru awal, tapi Saya tau bahwa tidak pernah dalam hidup Saya.. Saya merasa sebegini tidak sabarnya mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi dan masalah-masalah yang akan Saya hadapi nantinya. Yang berarti baik. Untuk saat ini, Saya Hanya bisa berharap semoga perasaan ini terasa sampai nanti.
Begitulah kisah sekilas tentang impian Saya, Bunda.. terima kasih karena mau membaca kisah singkat ini. Semoga Bunda Helvy dan keluarga selalu dilindungi dan dirahmati oleh Allah SWT, aamiin...
Wassalamu’alaikum, Bunda Helvy...

Minggu, 20 November 2016

Dari Satu Bintang Yang Redup

Banyak orang yang bisa dengan mudah menanggapi ceritaku. Cukup dengan mengatakan bahwa ada cara termudah untuk pergi dari situasi buram yang aku tengah hadapi itu.
“pergi. Selesaikan perasaanmu.”
Hampir selalu aku mendengar satu dua patah kata tentang menyerah. Karena setiap aku bercerita, aku sendiripun mendengar kepayahan dalam setiap arah alur ceritaku akan berhenti. Rasanya, memang bodoh jika aku terus saja menyayangi seseorang yang tidak pernah mengenal diriku.
Tapi, reaksi itu masih jauh lebih baik ketimbang reaksi beberapa orang yang menertawakanku. Menganggap ceritaku sebagai komedi renyah yang aku bagi untuk mereka lahap dan muntahkan secara bersamaan, tanpa tedeng aling-aling. Sebab, rasanya memang terlampau gila menyayangi seseorang yang bahkan tidak pernah aku temui secara langsung. Face to face.
Tapi setelah ku telan bulat-bulat seluruh remeh dan tawa hina yang ku dapat akibat kecintaanku pada-“nya”, aku akan sekali lagi tertegun mendapati hatiku kembali mencemooh kelemahanku.
“apa cinta pernah salah?” katanya.
Bukankah masih benar saat kita menyayangi saudara kita sesama muslim di luar sana? Bukankah masih terbilang waras saat aku menangis memandangi layar televisiku, melihat saudaraku dihujam rentetan bom yang meluluhlantakkan rumah-rumah, tempat ibadah, dan sekolah-sekolahnya? Bukankah masih terasa terpuji saat aku keluar rumah untuk ikut memperjuangkan hak-hak saudaraku itu, menunjukkan rasa sayangku pada mereka, yang tidak mengenal diriku? Yang tidak pernah kutemui secara langsung?
Lantas kenapa rasanya sangat gila saat aku menangis melihat “mereka” menangis, sakit, atau terluka? Mengapa mereka katakan aku aneh saat ku habiskan uangku yang ku tabung sendiri dengan kepayahanku demi “mereka” yang juga tidak mengenal diriku?
Bukankah cinta tidak pernah membatasi dan memilih? Hatiku memiliki begitu banyak kasih sayang, lantas mengapa salah jika aku membagi kasih sayangku kepada sebanyak-banyaknya orang?
Fall in love with as many things as possible, katanya.
Malam ini, aku hanya ingin memutuskan untuk menyerah. Bukan menyerah lantas melupakan mereka—yang aku akui telah mengubah hidupku menjadi lebih berwarna sekaligus lebih suram. Haha—tapi aku ingin menyerah untuk menjadi lebih normal seperti kebanyakan kalian.
Saat ku pandangi lagi beratus potret mereka dengan berbagai ekspresi baru dan baru lagi yang membuatku jatuh dan jatuh cinta lagi. Aku menyadari bahwa sepertinya Tuhan tidak memberi batas untuk perasaanku pada mereka. Seringkali aku merasa bahwa tidak akan mungkin bagiku mencintai mereka lebih dari rasa cintaku pada mereka hari ini. Tapi mereka memberi kegilaan padaku dan menunjukkan bahwa kasih sayang itu tidak terbatas. Dan aku tidak berdaya. Hanya bisa jatuh dan jatuh cinta lagi, semakin dalam dan lebih dalam lagi.
Walau berulangkali ku putuskan untuk berhenti dan berubah, menghadapi hal yang “orang normal” bilang lebih “nyata”, akan selalu ada perasaan yang menarikku kembali. Akan selalu ada senyuman mereka yang membuatku bergeming dan kembali menatap kearah “hal yang tidak nyata” itu lebih lama.
Hei, tak hanya tentang paras seperti yang kau-kau pikirkan.
Ada sekelumit emosi, harapan, pelajaran, dan impian yang banyak mereka berikan. Akhirnya, kacaku menunjukkan betapa banyak perubahan tentang hidupku yang terinspirasi dari mereka. Karena merekalah aku menjadi lebih “gila”. Dan dengan menjadi “gila”-lah aku bisa benar-benar menikmati hidup. Memperjuangkan hal yang selama ini orang waras itu katakan tidak masuk akal.
Aku—hari ini dan hari esok—bisa berada di jalan yang baru ini, sesuai dengan impianku puluhan tahun yang lalu, adalah berkat mereka.
Lantas, mengapa aku harus menahan diriku untuk menyayangi mereka?
Ya, tidak akan terasa lengkap aku sebelum ku tatap mereka bertujuh secara langsung dan mengucapkan berulang kali kata terimakasihku. Walaupun untuk melengkapinya, butuh waktu hingga seumur hidupku.
Karena tanpa mereka, mungkin aku masih menekuk lutut dengan mata bengkak, duduk di depan mejaku yang terhampar gulungan besar kertas A2 bergambar beton-dinding-pondasi yang membuatku hampir menyerah. Membuatku hampir merasa tak berguna. Membuatku merasa terkungkung mati dalam raga yang setengah hidup.
Tapi, nyatanya aku malah di depan laptopku hari ini. Menulis dengan hati yang ringan. Dan semuanya, berkat mereka. Lantas, bagaimana bisa aku pergi dan menyelesaikan saja perasaanku?
Bagaimana bisa aku berhenti mencintaimu, Kim Sungkyu, Jang Dongwoo, Nam Woohyun, Lee Howon, Lee Sungyeol, Kim Myungsoo, Lee Sungjong?

Dari: satu bintang yang redup di tengah lautan bintang yang terang

Untuk: infinite

Kamis, 15 September 2016

Ibarat Bagi Kita

Seibarat pahitnya secangkir kopi yang ku sesap pagi tadi
Aromanya berbohong padaku
Kemudian mengenyah
Tapi, ku sesap juga
Menikmati sepat yang menari dalam lidah
Pahitnya larutan bubuh kopi yang membuatku tersadar
Bahwa manusia begitu naifnya

Pun.
Seibarat air yang meresap memberi jiwa pada bungaku
Mengapa air masih saja mau?
Mencintai bunga sebegitu dalamnya
Memekarkan pesonanya tanpa harga apapun
Sedangkan yang ia dapat hanyalah kemusnahan?

Lalu,
Seibarat daun yang mau saja menari bersama anginnya
Menikmati dentuman waktu menuju mautnya
Mencintai angin begitu dalam
Yang justru memberinya jalan menuju wangi tanah
Membusuk dalam kesendirian
Mati di bumi

Seibarat itu
Cinta memang tak pernah berjalan di atas logika
Seumpama itu
Sadarku bangkit dan tertawa pilu
Pahit, bukan?

Jadi, bukankah kita pun sama?
Dan bukankah rasaku dalam bisuku adalah kenaifan pula?
Bukankah..
Kita hanyalah pilinan rasa semu?
Yang berujung pada ambiguitas tanpa penyelesaian?
Tapi,

Mengapa mencintaimu masih saja terasa benar..?

Sabtu, 10 September 2016

Daun


Teruntuk angin,
Mengapa masih saja ku relakan diriku? Membiarkanmu mengombang-ambingku tanpa ampun, merusak beberapa bagian dariku yang rapuh dan begitu tidak berdaya? Tapi mengapa bersamamu masih saja terasa benar?
Teruntuk angin,
Ku biarkan lajumu menghempasku kesana kemari dalam balutan rasa yang tak adil. Ku biarkan aku menikmati siksamu pada sekeping aku. Ku biarkan  kau merobek dan merusaknya tanpa ampun.
Teruntuk angin,
Masih saja tak pernah kau tau betapa aku masih menari tanpa arah demi seorang kamu. Masih saja aku mengikuti arahmu berlari walaupun aku tau bahwa dipenghujung kisah ini, hanya akan ada aku yang membusuk di atas tanah. Sendirian, tanpa sempat kau balas tulusku.
Teruntuk angin..
Aku masih mencintaimu walaupun kau tak menyadari bahwa aku—sepotong daun yang menunggu busuknya—menatapmu dengan penuh harap dari jauh, menyayangimu dalam bisuku. Menunggu hal indah yang tak pernah pasti akan terjadi kapan, atau apakah benar-benar akan terjadi. Aku masih merindukanmu dalam tarianku bersamamu, mencintaimu sedalam ini walaupun tau akhir yang akan ku hadapi jika tetap melakukannya. Mendukungmu, mengikuti arah pandangmu, kemana pun, dimana pun, demi seorang kamu.
Teruntuk angin,
Aku mungkin hanyalah selembar daun kecokelatan yang lusuh dan tak berdaya. Tapi, aku mencintaimu dalam do’aku, melebihi siapa pun.

Minggu, 28 Agustus 2016

Make Things Seems Right


Things never get any better until I found what I really want for my life.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa sudah kisaran tahun kedua aku disini, menghadapi susah senangnya kehidupan seorang mahasiswa jurusan arsitektur. Melihat banyak hal baru dan mengambil begitu banyak pelajaran berharga darinya. Dan membuat kenangan-kenangan baru.
Tahun keduaku penuh dengan drama. Semuanya terasa salah saat harus aku melangkah lagi makin jauh dari tujuanku dan kecintaanku. Setiap harinya.. hampir selalu ada penyesalan dan rasa tak percaya diri. Kenapa aku sebodoh ini? Kenapa aku sepengecut ini? Apakah sebegini sulitnya untuk menjadi diri sendiri dan mengejar impianku? Identitas diriku sendiri?
Tak ayal, saat semuanya terasa begitu salah dan kita tetap harus menjalani hidup.. aku pun mulai hidup menjadi seorang aktor handal bermuka seribu. Saat bersedih, aku tersenyum. Saat hatiku meringis dan menangis, aku tertawa. Tersenyum, tertawa, tersenyum lebih lebar, dan tertawa lebih keras.
Dan jika mengenang hari-hari dramatis yang ku lalui setahun belakangan.. aku masih saja menangis seorang diri lagi. Di kamar yang sama.
Tapi, Tuhan begitu menyayangiku dan memberikanku kesempatan lagi untuk menjadi lebih berani. Kesadaranku akan batas waktu dan kesempatan yang tidak akan pernah datang dua kali menghantam ketakutanku, menghancurkannya. Membuatku menjadi lebih berani dan dengan tegas mengambil langkah ini. Sendirian.
Begitu banyak reaksi yang mendukungku, sama halnya dengan begitu banyaknya reaksi mereka yang mendengus melihat ketabahanku dalam mengejar impianku yang sebenarnya sudah sangat jauh.
Lalu, saat aku berhasil.. kesadaran menyelimutiku.
Hari ini, kali pertama dalam hidupku—setelah setahun belakangan aku dirundung galau—aku merasa bahwa langkahku terasa ringan. Bahwa semuanya terasa benar. Dan aku bersyukur karena telah mengambil langkah ini. Berterima kasih kepada Tuhan atas segala keberanian yang ia berikan, dan berterima kasih kepada diriku sendiri atas kepercayaan diriku yang kembali kutanam.
Ya, ternyata benar.
Aku bukanlah siapa-siapa tanpa impianku. Aku bukanlah siapa-siapa tanpa tulisanku.
Maka setelah kukejar dunia ini dan akhirnya ku dapatkan, perlahan aku kembali menjadi seorang manusia yang sempurna. Yang utuh dengan nyawa dan jasadnya. Sempurna dengan impian yang kini ia pegang teguhkan tanpa ketakutan lagi.
Semua terasa menjadi lebih jelas sejak hari ini dan perlahan ketakutanku menjadi tak berarti.
Things will never get any better if I never seek  what I really want.
Aku termangu sesaat setelah menyaksikan lagi masa-masa tersuram dalam hidupku di kepalaku sendiri. Perlahan, ku pegang penaku, ku rapatkan tubuhku menuju meja kerjaku dan memandangi kertas kecil berwarna putih untuk menulis.
Ya, aku menulis.
Melakukan satu-satunya hal yang paling aku cintai tanpa mengindahkan ketakutanku lagi.
Aku menulis sambil menangis dan tersenyum.
Bersyukur.
Dan setelah selesai semua hal yang ingin aku tuangkan kedalam tulisanku.. aku menghela nafas dan menghapus bulir airmata yang jatuh ke ujung daguku dan terisak sambil tertawa kecil.
Betapa naifnya tulisanku.
Tapi, aku masih saja tertawa kecil sambil menangis lebih banyak. Karena itulah, aku merasa bahwa pemikiranku haruslah disampaikan kepada manusia lainnya yang tengah mengalami hal yang setahun belakangan ini ku alami.
Bahwa..

“as you get older, you begin to realize there are many other things that should be prioritized beside your dreams.”
“it’s okay to admit your defeat. It’s okay to lessen your dreams. Be more realistic. Because that’s part of maturity.”
“but.. don’t give up on it!”
“if it’s something important that called dreams. Then, don’t lose it!”
“because dream is the part of yourself. Because dream is a depiction of who you are.”

Bahwa saat kamu mulai dewasa, mungkin kamu akan mulai menyadari betapa naif dan semunya impianmu. Bahwa teramat sulit bagimu untuk mencapainya sekarang ini.
Kamu boleh mengatakan bahwa kamu kalah dan salah. Kamu pun boleh meminimalisir mimpimu dan lebih realistis. Menghadapi kenyataan bahwa impianmu terlalu sulit untuk dicapai saat ini. Fase ini memang fase kedewasaan yang harus kamu lalui dalam hidup. Tidak ada satu pun manusia yang bisa mencegah dirinya dari kegagalan.
Tapi, jangan pernah benar-benar menyerah.
Jika itu benar-benar impian—hal yang kamu cintai dalam hidupmu dan membuatmu bahagia hanya dengan memikirkannya—maka, janganlah kamu lepaskan!
Sebab, percayalah.
Bacalah tulisanku ini baik-baik dengan segenap keberanianmu dan percayalah.
Bahwa impianmu adalah bagian dari dirimu, identitasmu. Impian adalah penggambaran dirimu. Lantas, tanpanya, siapa dirimu?

Senin, 25 Juli 2016

Retoris (Part I)

“apa yang spesial darinya?”
Apa..? jika Amanda bertanya seperti itu dengan ekspresi kebingungan, aku bisa apa? Karena sejatinya aku pun tidak tahu. Aku hanya bisa mengulas senyum pahit sekilas dan mengangkat bahu, memberi tanda bahwa aku pun kehabisan akalku dalam mencari alasan untuk melupakannya. Padahal.. tidak ada alasan yang pasti kenapa aku harus mencintainya seperti ini.
Saat pertanyaan itu keluar mulus dari bibir sahabatku yang habis kesabarannya dalam menghadapiku, gema tanyanya berulang-ulang memukul pikiranku. Dan aku tak berdaya. Hanya bisa mengingat kembali potong demi potong ingatan tentang kita. Yang bahkan mungkin, hanya aku yang masih mengingatnya.
*****
Mungkin karena malam itu?
Saat aku hampir lima jam lamanya mematut diri didepan kaca dan mengganti berulang kali penampilanku. Dan sepertinya, hampir ribuan kali aku berdesis dan mengerutkan alisku karena merasa penampilanku buruk sekali.
The hell, Nad? Haruskah aku serepot ini hanya demi beberapa jam kedepan?
Dan untung saja, gerutuku bisa dihentikan oleh dentingan ponselku tanda pesan masuk. Darinya.
From: Kak Satria
Kynya aku udh nunggu sekitaran 30 mnt..? :D
Aku menarik nafas sedalam-dalamnya dan memejamkan mata sesaat. Dapat dengan jelas aku bayangkan jemari Kak Satria menari diatas keypad ponselnya dengan senyum simpulnya yang khas itu. seolah ia tahu kepanikan apa yang sedang aku alami saat ini.
Ya, dia pasti tahu. Dia selalu tahu aku bahkan melebihi diriku sendiri.
To: Kak Satria
On the way.
Balasku singkat dengan wajah memanas dan jantung berdegup kencang bukan main. Sambil melangkahkan kaki keluar, menghadapi kenyataan bahwa aku sudah pasti akan melalui kenangan baru bersamanya. Malam ini.
Dan firasatku mengatakan bahwa.. hatiku harus lebih berani.
Lalu, disanalah ia, duduk dengan nyaman diatas motor bututnya yang ia banggakan. Melambaikan tangannya padaku setelah ia menoleh karena mendengar langkah kakiku berjalan tak beraturan menujunya. Dan aku—as usual—hanya bisa tersenyum kikuk dan berjalan semakin tidak beraturan.
Oh God.. kalau saja tidak ada ceritanya aku jatuh cinta pada laki-laki bermata sipit yang sekarang duduk tidak jauh didepanku ini, aku pasti tidak akan sememalukan ini.
“mau pulang jam berapa kalau berangkatnya lebih lama lagi?” Kak Satria tertawa. Tawa yang masih saja dengan mudahnya membuat kakiku lemas karena daya tariknya.
“maaf, kak.” Sahutku sambil mengenakan helmet dengan canggung dan duduk di belakangnya dengan gerakan yang lebih canggung lagi. Dalam hati mengutuki sahutanku yang sangat datar dan membosankan.
Tapi, Kak Satria—yang selalu bisa menghadapiku dengan tepat—hanya tertawa sambil memeriksa posisi dudukku, kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju kencang. Menuju tempat makan yang ia ceritakan padaku dimalam sebelumnya.
Lagi, Kak Satria menyelesaikan percakapan kami dengan tawanya. Selanjutnya, ia seakan memberi waktu bagiku untuk mengumpulkan kembali ketenanganku. Duduk dibelakangnya, memandangi punggungnya, diam dalam kenyamanan hening, melihat gedung-gedung dipinggiran jalan.
Dan masih menjadi misteri.. kenapa hanya dengannya aku bisa diam dengan nyaman? Tanpa khawatir harus memikirkan bahan obrolan yang menarik untuk kita perbincangkan. Hanya dengannya aku tidak mengkhawatirkan kesanku sendiri. Tidak bersusah payah untuk berusaha menjadi orang lain dan membuatnya terkesan padaku. Hanya dengan duduk dibelakangnya seperti ini, aku merasakan perasaan paling menenangkan dalam hidupku.
Lalu, saat sudah kukumpulkan ketenanganku, Kak Satria akan mulai membuka percakapan kembali seolah dapat membaca timing rasaku.
“tempat makannya masih jauh, lho.” Ucapnya sambil terkekeh.
“oh, ya?” dan lagi, aku hanya bisa menyahut dengan sahutan paling datar dan membosankan.
“iya.” Aku mengintip lewat spion motor dan mendapati matanya semakin menyipit karena tersenyum, “jadi, kamu jangan sampai ketiduran, ya.”
Dan ajaibnya, walaupun hanya bisa aku balas dengan tawaku—karena menyebalkannya aku yang tidak dapat mengendalikan tawaku—Kak Satria akan selalu menemukan percakapan baru lainnya sampai aku bisa berkata lebih banyak. Dan percakapan kami pun mulai terasa lebih menarik.
Lagi, hanya jika dengannya.
Kak Satria tahu betul aku bukanlah tipikal orang yang suka bercerita tentang diriku sendiri. Maka, dengan lugasnya ia akan mencari bahan pembicaraan tentang dirinya sendiri. Memberiku kesempatan untuk mendengarkan ceritanya dan mengetahui lebih banyak lagi sejarah—dan bahkan rahasia—dalam hidupnya. Membuatku semakin merasa bahwa aku dihargai. Bahwa Kak Satria mempercayaiku. Dan lagi, tidak pernah ada orang lain yang bisa membuat perasaanku sebaik ini.
Setelah tiba kami di sebuah tempat makan bernuansa tradisional, dan telah kami dapatkan pesanan kami masing-masing, kami akan memulai perbincangan nyaman kami yang pembahasannya teramat luas dan acak. Dan malam itu, hal aneh pertama terjadi.
Aku tidak dapat menahan senyumku saat tiba-tiba janjinya terlintas dalam benakku. Dan tanpa berfikir dua kali, aku berkata, “Kak, katanya mau nyanyi?”
Sejenak ku lihat matanya membulat karena terkejut. Dan aku menyesal sejadi-jadinya karena telah merusak suasana yang sempurna ini. Aku lupa dan malah menantang diriku sendiri untuk bertahan dari hal yang paling tidak aku suka. Karena sebenarnya aku paling tidak suka tindak-tanduk romantis atau manis yang kebanyakan gadis lain suka. Apalagi, dinyanyikan oleh seorang laki-laki yang aku sukai. Dan Kak Satria tahu betul tabiatku itu. mungkin itulah yang membuatnya terkejut.
“suaraku nggak bagus, lho.” Raut wajahnya melembut dan ia tersenyum. Membuatku mendengus sebal.
“nggak usah basa-basi dengan merendah, deh. Kakak udah janji, lho.” Aku mengingatkan dengan memasang ekspresinya kemenangan. Yang malah disambut dengan tawanya.
“iya, tapi kamu jangan nyesel, ya.”
“iyaaa!”
Dan mulailah ia menyanyikan sebuah lagu yang masih ku ingat liriknya dengan jelas. Dan terjadilah momen paling istimewa dalam hidupku.

Ku sadari kesalahan ini..
Yang membuat segalanya gelap jadinya..
Ooh kasihku..
Ku harap kau mau.. memaafkan..
Menerima pengakuanku..
Jangan kau diam lagi..
Ku tak sanggup menahan..
Bicaralah kau sayang..
Jiwa ini tak tenang..

Aku tidak bisa menahan rasa bahagia dan egoku untuk percaya bahwa lagu itu ia nyanyikan khusus untukku. Dan sejenak berusaha melupakan bahwa akulah yang memintanya untuk bernyanyi.
Tapi, aku masih ingat rahasianya.

Cinta jangan kau pergi..
Tinggalkan diriku sendiri..
Cinta jangan kau lari..
Apalah arti hidup ini..
Tanpa cinta dan kasih.. sayang..

Traumaku kembali saat ku sadar bahwa lirik dalam lagu itu bisa bermakna lain. Dan lebih mungkin ia nyanyikan untuk gadis itu. cerita pertama tentang hidupnya yang ia buka padaku.
Dan aku tidak dapat menahan diriku untuk bersedih.
*****
“jadi..?” Amanda menatapku lamat-lamat, “Nadia..?”
Aku terbangun dari lamunan panjangku. Sama sekali tidak mendengarkan satupun kata yang Amanda sampaikan padaku. Walaupun aku mendengar resonansi suaranya masih berputar dalam otakku. Tapi, otakku menolak untuk mencerna maknanya karena terusik oleh lamunanku.
Jadi malam itu, setelah selesai makan malam kami yang menyenangkan, hal aneh kedua terjadi.
Tidak biasanya. Saat aku melambaikan tangan untuk memberi tanda bahwa aku akan masuk ke dalam rumah dan meninggalkannya, Kak Satria hanya balas menatapku. Membuatku dengan canggung membalikkan badanku dan hendak pergi. Tapi, baru sekitaran satu langkah ku ambil, aku dengar Kak Satria memanggilku dengan intonasi suara yang lembut.
“Nadia..”
Aku berbalik lagi dan menghadapi ketakutanku.
“iya, Kak..?”
Sejenak Kak Satria terdiam sambil memandangiku. Berusaha keras untuk mencari kata-kata terbaik—yang biasanya sama sekali bukan gayanya—untuk kemudian mulai membuka suara, “kamu anggap aku kakak?”
Detik saat aku mencerna pertanyaannya yang absurd dan tak jelas tujuannya itu, begitu banyak kelebat bayangan dan peristiwa yang muncul dalam benakku.
Aku anggap Kak Satria seorang kakak..? kakakku..? ya, siapa aku? Mungkin pertanyaan semunya itu merupakan tanda bahwa ia sedang berusaha untuk mengingatkanku dengan hati-hati. Bahwa aku hanyalah adik kesayangannya yang ia sayangi—sebagai adik. Dan aku juga seharusnya menganggapnya sebagai seorang kakak, tanpa alih lainnya.
Tapi, berat ku anggukkan kepala saat aku ingat lagi nyanyiannya beberapa jam yang lalu. Saat ku lihat senyumannya saat melihatku dan ku dengar suaranya bercerita padaku.
Lalu, tiba-tiba malah aku ingat lagi cinta pertamanya yang memberinya banyak ingatan berharga. Yang tidak pernah habis ia ceritakan padaku. Masih dengan ekspresi sedih pertanda ia masih belum bisa melepaskan gadis itu. dan mungkin—sangat mungkin—lagu tadi ia tujukan untuk gadis itu. bukan untukku.
Jadi, ku anggukkan kepalaku dan ku paksakan senyumku.
“iya, Kak. Kakak itu Kakak terbaikku.”

*****

Kamis, 14 Juli 2016

Teruntuk: Kamu (Part II)

Aku, Geanda. Hari ini pun akan aku ceritakan perihal kamu, Fagas.
.
Lagi.
Tak ada yang spesial dengan bangku taman sekolah yang lagi-lagi kita tempati ini. Berdua. Persis sama seperti beberapa tahun yang lalu saat harus aku tunggu kamu lagi untuk kembali. Setelah kamu meyakinkanku bahwa hatimu tidak akan pernah berubah. Dan meyakinkanku bahwa suatu hari nanti—saat tiba hari dimana kita bertemu lagi—akan kamu usahakan dengan segenap bisamu untuk membuatku mengubah hati. Melupakan dia, dan melihat hanya padamu.
Tapi, beberapa tahun yang lalu.. aku tidak berusaha untuk mempercayaimu. Karena egoku selalu memasang tameng pelindung untuk menjaga hatiku dari harapan semu hampir semua laki-laki. Karena ku pikir, kamu juga pasti seperti dia.
Lalu saat lagi. Kita disini, hari ini. Aku percaya bahwa kamu berbeda. Dan aku menyadari bahwa beberapa tahun yang lalu.. seharusnya bukan begitulah jawabanku. Bukan kalimat penolakanlah yang aku susun dan aku jabarkan padamu. Karena sebenarnya, hatiku tidak pernah bisa menolak keberadaanmu.
Sayangnya, saat aku sudah seyakin ini.. kamu memutuskan untuk menyerah.
“maaf, Gea. Maaf karena rinduku masih sama.”
Lagi? Kata yang sama lagi?
Aku menahan nafas untuk sepersekian detik. Meragukan pendengaranku. Total kehilangan seluruh guna inderaku pada detik-detik itu. Tepat setelah kamu mengatakan beberapa patah kata yang mengandung sejuta makna.
“tapi, kali ini aku akan berhenti.” Kamu tersenyum samar sambil perlahan menunduk. Terlihat berusaha keras untuk mendustai hatimu.
Baru saja kamu hendak memalingkan wajahmu dan berlalu, aku—tanpa kesadaran penuh—memanggilmu dengan suara gemetar karena degupan jantungku yang bertambah kelipatannya.
“Gas.”
Kamu mengangkat wajahmu dan menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.
“um..” sejenak aku kehilangan kata. Sebelum akhirnya dengan yakin membalas tatapanmu, “iya, Gas, iya. Seharusnya kamu berhenti.”
Aku sedikit goyah begitu melihat tatapanmu yang bercampur dengan sedihmu. Tapi akhirnya, tetap kulanjutkan pengakuanku dengan sisa-sisa keberanianku.
“berhenti ikutin aku kesana-kemari. Berhenti mengusahakan yang terbaik buat aku dan lantas mengorbankan kebahagiaan kamu. Berhenti menunggu. Jangan berusaha selalu ada untuk orang kayak aku.” Aku menarik nafas dalam-dalam, “berhenti, Gas. Kali ini, biar aku yang mengejar kamu.”
.
.
.
Terhitung tahunan aku mencintaimu sebesar ini.
Walau selalu ada saja saat jatuh bangunku dalam meyakinkan hatiku bahwa perasaan ini tidak akan salah. Dan perasaan ini akan membawaku menuju akhir bahagia yang dulu selalu aku impikan. Ibarat dongeng kita dulu yang aku ceritakan padamu dengan suara melengking khas anak kecil.
Kisaran waktuku untuk sibuk mencintaimu.. mungkin lebih lama dari kisaran waktumu jatuh cinta padaku. Tapi, kamu tidak akan pernah tahu.



Part I: http://fxdstar28.blogspot.co.id/2015/09/teruntuk-kamu.html