Let it flow, katanya..
Mungkin
itu artinya masih ada waktu season
duaku? Masih ada lagi masa-masa tarik ulur yang menggemaskan, tapi sekaligus juga
terasa miris? Masih ada lagi nantinya masa-masa dimana aku merindukanmu, dan kamu pun merindukanku? Masih akan ada lagi masa ulangan dimana akan kamu pertanyakan lagi
perasaan kasih sayang aku ini tulus atau semu? Atau rasa sayang yang berbeda
dari tafsir banyak orang tentang kasih sayang antara laki-laki dan perempuan? Apa
masih ada lagi kesempatan bagiku untuk mengulang kejadian yang aku sesali
hasilnya? Memperbaiki lagi responku dalam menghadapi tantanganmu untuk
menunjukkan bahwa benarkah aku yang menyayangimu lebih dari siapapun? Dan meyakinkanmu
bahwa akulah yang benar-benar ada disini untukmu, bukan hanya lewat kata
manisku, melainkan juga lewat nyatanya kepedulianku?
Tapi,
bisa juga arti dibaliknya sangat berkebalikan dengan persepsiku. Apa aku akan
bertemu dengan masa dimana ketakutanku menjadi kenyataan? Dimana jemarimu bergenggaman dengan jemari perempuan lain yang jauh—jauh—lebih sempurna
dibandingkan aku? Apa aku akan menyesal sejadi-jadinya karena tidak memperjuangkan
seseorang yang seharusnya aku perjuangkan? Dan apakah malah akan tiba saatnya
dimana aku menangis seorang diri karenamu dan karena takdir yang mengatakan
bahwa kita tidak akan pernah bisa menjadi benar-benar ‘kita’?
Let it flow,
pesannya. Aku hanya diminta untuk menjalani semua apa adanya.
Tapi, aku
sakit jika harus menunggu lagi abu-abunya masa depan. dan jika ia berkata
begitu, maka harus bagaimana aku? Jadi, aku harus menikmati perasaan ini? Menghadapi
lagi kesakitanku menunggu seseorang yang sebenarnya aku yakini.. tidak akan
bisa menjadi bagian dari ceritaku?
Dan.. lagi-lagi,
aku hanya bisa menyalahkan hidupku sendiri.
Kenapa aku
sepayah ini? Kenapa aku bukanlah orang hebat yang bisa orang lain bicarakan
dengan bangga jika ia mengenalku? Kenapa aku bukanlah siapa-siapa?
Sementara kamu adalah seseorang. Sebenar-benarnya seseorang. Yang harganya jauh diatasku. Yang
tempatnya jauh dari jangkauanku. Yang menurutku.. akan tidak adil rasanya jika kamu diberikan seorang aku.
Seandainya
jika.. aku cukup berharga.. mungkin aku bisa bertahan dan berjuang.
Tapi, aku
tau bahwa.. jodoh kita adalah cerminan pribadi kita. Lantas, aku bisa apa? Sementara
takdirku separah ini. Sementara hidupku sekonyol dan sesia-sia ini.
Jadi, aku
bisa apa?
Let it flow, katanya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar